Jejak Perempuan Tangguh di Balik Energi Negeri

img

POSKOTAKALTIMNEWS, Di dapur sederhana di Jambi, aroma tempoyak yang khas perlahan memenuhi ruangan. Bagi sebagian orang, tempoyak hanyalah fermentasi durian yang menjadi pelengkap masakan tradisional Melayu. Namun bagi Thiur Maita Lubis, tempoyak telah mengubah jalan hidupnya.

 

Thiur adalah istri seorang Awak Mobil Tangki (AMT) PT Elnusa Petrofin. Seperti banyak keluarga pekerja distribusi energi lainnya, ia terbiasa menjalani hari-hari ketika sang suami lebih banyak berada di jalan daripada di rumah. Alih-alih mengeluh, Thiur memilih mengisi waktu dengan berkreasi.

 

Dari tangan kreatifnya lahirlah Aksena Snack, usaha camilan berbahan dasar tempoyak yang kini telah menembus 12 toko oleh-oleh di Jambi. Setiap bulan, usahanya mampu menghasilkan omzet hingga Rp10 juta.

 

“Awalnya hanya usaha kecil dari rumah,” begitu kira-kira kisah yang menggambarkan perjalanan Thiur. Namun titik balik datang ketika PT Elnusa Petrofin menghadirkan program CSR UMKM Academy.

 

Melalui program tersebut, Thiur tidak hanya belajar membuat produk yang enak. Ia mendapatkan pendampingan mengenai branding, pengemasan, hingga strategi pemasaran. Bahkan produknya kini telah terdaftar Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), sebuah pencapaian yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan.

 

Bagi Thiur, tempoyak kini bukan sekadar makanan khas daerah. Ia menjadi identitas, cerita, sekaligus peluang ekonomi yang mampu menarik wisatawan membawa pulang cita rasa Jambi dalam kemasan yang lebih modern.

 

Namun keberhasilan Aksena Snack tidak berhenti pada peningkatan omzet semata. Di lingkungan tempat tinggalnya, Thiur mulai melibatkan ibu-ibu sekitar untuk membantu proses produksi. Ia juga aktif berbagi pengetahuan kepada kelompok PKK setempat. Perlahan, sebuah lingkaran ekonomi kecil tumbuh dari rumahnya.

 

Satu usaha rumahan melahirkan peluang kerja, meningkatkan pendapatan keluarga, dan membuka ruang bagi perempuan lain untuk berkembang.

 

Ratusan kilometer dari Jambi, semangat yang sama tumbuh di Pulau Bungkuk, Kota Dumai, Provinsi Riau.

 

Sejak 2022, Elnusa Petrofin melalui unit operasi Integrated Terminal (IT) Dumai mendampingi kelompok pengrajin tenun tradisional yang sebagian besar terdiri dari ibu rumah tangga.

 

Sebelumnya, aktivitas menenun hanya dilakukan untuk kebutuhan pribadi atau dijual secara terbatas. Kini, lima perempuan pengrajin mampu menghasilkan omzet hingga Rp10 juta setiap bulan dari kain tenun khas Dumai.

 

Lebih dari sekadar peningkatan ekonomi, program ini menjadi upaya menyelamatkan warisan budaya lokal yang mulai terancam akibat minimnya regenerasi pengrajin.

 

Di tangan para perempuan pesisir tersebut, benang-benang tenun tidak hanya menjadi kain bernilai jual, tetapi juga menjadi simbol pelestarian identitas daerah.

 

Kontribusi sosial Elnusa Petrofin tidak berhenti pada sektor ekonomi.


Di Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, unit operasi Fuel Terminal (FT) Tembilahan menginisiasi Program Posyandu Home Care sejak 2023.

 

Program ini berfokus pada peningkatan kapasitas kader posyandu di kawasan KM 3 Sungai Gantang.

 

Wilayah tersebut merupakan salah satu lokasi prioritas penanganan stunting di Provinsi Riau. Melalui pendampingan berkelanjutan, perusahaan mengambil peran lebih dari sekadar pemberi bantuan.

 

Elnusa Petrofin hadir sebagai mitra yang memperkuat layanan kesehatan berbasis komunitas, sehingga manfaat program dapat dirasakan dalam jangka panjang oleh masyarakat.

 

Ada benang merah yang menghubungkan seluruh program tersebut : perempuan. Sebagian besar penerima manfaat langsung merupakan istri AMT, ibu rumah tangga, hingga anggota PKK. Dalam industri distribusi energi yang mayoritas pekerjanya laki-laki, pemberdayaan perempuan menjadi elemen penting untuk menciptakan keseimbangan sosial.

 

Pendekatan ini menunjukkan bahwa keluarga pekerja merupakan bagian tak terpisahkan dari ekosistem bisnis perusahaan.

 

Ketika seorang istri pengemudi tangki mampu membangun usaha yang sukses, ketahanan ekonomi keluarga meningkat. Dampaknya tidak hanya dirasakan di rumah, tetapi juga mendukung produktivitas dan kesejahteraan pekerja itu sendiri.

 

Yang menarik, program UMKM Academy tidak hanya berfokus pada bantuan modal. Elnusa Petrofin membangun ekosistem yang lebih lengkap, mulai dari pelatihan manajerial, penguatan merek, perlindungan hukum melalui HAKI, hingga membuka akses pasar yang lebih luas.

 

Pendekatan semacam ini membuat usaha kecil memiliki peluang bertahan dan berkembang setelah program pendampingan selesai.

 

Lebih jauh lagi, perusahaan memprioritaskan masyarakat di wilayah ring-1 operasional, yakni komunitas yang bersentuhan langsung dengan aktivitas distribusi energi sehari-hari.

 

Di sinilah makna tanggung jawab sosial menjadi nyata. Bukan sekadar memenuhi kewajiban perusahaan, tetapi membangun hubungan yang lebih setara dengan masyarakat sekitar.

 

Dari tempoyak di Jambi, tenun di Dumai, hingga posyandu di Indragiri Hilir, kisah-kisah kecil tersebut menunjukkan satu hal: ketika kesempatan diberikan kepada masyarakat, terutama perempuan, dampaknya bisa melampaui angka-angka dalam laporan CSR.

Ia tumbuh menjadi harapan, kemandirian, dan masa depan yang lebih baik bagi banyak keluarga. (Hamid)